Rabu, 25 Oktober 2017

Profil Gejayan



Gapura selamat datang
Gejayan merupakan salah satu dusun dari 21 desa yang ada di Desa Banyusidi Kecamatan Pakis Kabupaten Magelang. letaknya berada di lereng barat Gunung Merbabu dengan ketinggian 800mdpl. Jumlah penduduknya kurang lebih 400 jiwa terbagi menjadi 140 kk dan dibagi menjadi 8 Rt dan 4 RW, untuk saat ini dipimpin oleh Bapak Sulis prastyo sebagai Kepala Dusun Gejayan.

Nama gejayan diambil dari cikal bakal dusun yaitu Ky onggo joyo dan Nyai onggo joyo serta Ky Joyopuso dan Nyai Joyopuso.Menurut sesepuh dusun kedua cikal bakal itulah yang menjadi pendahulu menetap di dusun tersebut dan diberilah nama Gejayan.

Keseharian masyarakat Dusun Gejayan adalah petani dan juga peternak. Dalam hal pertanian biasanya warga menanam tanaman holtikultura seperti cabai, tomat, kobis, jagung dan tanaman palawija. Selain itu juga tanaman tembakau menjadi komoditas yang tidak kalah menariknya untuk ditanam di tempat tersebut.dibuktikan dengan banyaknya warga masyarakat yang menanamnya. Karena tembakau adalah tanaman musiman dan sudah menjadi kebiasaan dari dahulu,jika pada satu musim tidak menanam tembakau menurut warga sekitar berasa kurang. Untuk hasil komoditas holtikultura kebanyakan mengandalkan tanaman cabai yang bisa menjadi primadona. disebabkan karena harga cabai terkadang menggiurkan untuk kalangan petani yang bisa mencapai 100rb per kilogramnya. Walaupun juga terkadang harga bisa anjlok hingga 2.500 per kilogramnya tetapi warga tetap antusias untuk menanamnya. Dalam hal peternakan sebagian besar mempunyai sapi,juga ada yang mempunyai kambing atau domba. Selain itu ayam, enthok, bebek, burung dan merpati juga bisa ditemukan di dusun ini, karena warga masyarakat yang suka dengan merawat hewan peliharaan.

Udara dingin dan sejuk pada pagi hari akan terasa di dusun ini. Pemandangan yang asri juga akan terlihat memanjakan mata,Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing dan Andong nampak didepan mata ditambah munculnya matahari dari ufuk timur menambah suasana menjadi semakin hangat. Setiap pagi masyarakat Gejayan sudah terlihat sibuk dengan persiapan untuk berangkat ke kebun dan mengurus anak ke sekolah. Warung bubur biasanya sudah ramai dengan Ibu-ibu yang mengantri untuk sarapan dirumah. Bukan seperti warung pada umumnya yang berada di ruko ataupun kios mewah, warung berada di rumah sendiri dengan konsep yang sederhana.

Sore hari "sunset" juga tidak kalah menariknya untuk Pemandangan yang ada di Dusun Gejayan.Selain itu juga lampu kelap kelip lampu kota yang membentang dari Magelang-muntilan  juga bisa dilihat dengan cantiknya. Hutan Pinus yang masih asri juga masih bisa kita temukan di dusun ini.
Hutan pinus terjo
Dalam segi pendidikan warga masyarakat mayoritas lulusan SD. Karena warga masih beranggapan bahwa pendidikan yang tinggi toh nantinya akan kembali lagi ke tempat asal dan menjadi petani. Namun untuk sekarang inilah pendidikan di Dusun Gejayan sudah diperhatikan, hal itu dibuktikan dengan dibangunnya Pos PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Pelangi untuk mempersiapkan generasi kedepan lebih mampu bersaing. Selain itu juga banyak anak-anak yang melanjutkan sekolah sampai jenjang SMP, SMA bahkan juga perguruan tinggi. Selain pendidikan formal pendidikan non formal juga menjadi perhatian khusus, salah satunya adalah adanya TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) Al-Hidayah sebagai benteng dalam hal keagamaan sebagai bekal untuk masa depan dan juga kemajuan Dusun Gejayan. Karena mayoritas masyarakat Dusun Gejayan menganut Agama Islam.
Dusun Gejayan sendiri mempunyai 2 masjid untuk beribadah yang diberi nama Masjid Jamiatul Ikhsan dan Masjid Norah. Masjid Jamiyatul Ikhsan dibangun sudah lebih dari 10tahun yang lalu. Awal mula dibangun karena masjid yang dahulu Masjid Al-Hidayah tidak mampu menampung jamaah yang akan melakukan ibadah di masjid tersebut, maka salah satu cara adalah dengan membangun Masjid Jamiatul Ikhsan untuk memecah jamaah agar tetap bisa menjalankan ibadah secara berjamaah. Sedangkan Masjid Norah merupakan hasil pemugaran Masjid Al-Hidayah sebelumnya yang diperluas.
Masjid Norah 
tak hanya bangunan masjid Dusun Gejayan juga mempunyai padepokan yang diperuntukkan untuk pertunjukan kebudayaan. Nama padepokan tersebut adalah Padepokan Wargo Budoyo. Padepokan dibangun atas bantuan dari pemerintah untuk melestarikan kebudayaan yang ada di dusun tersebut dan juga dusun sekitar. Kesenian yang menjadi ciri khas Dusun Gejayan adalah Soreng, Gupolo Gunung, Topeng Ireng dan Geculan Bocah. Kesenian tersebut sudah keliling Nusantara dan juga berkolaborasi dengan seniman terkenal Indonesia maupun mancanegara.

Festival lima Gunung 
Selain pelestarian budaya warga Dusun Gejayan juga masih melestarikan adat istiadat yang ada, seperti genduren selapanan (35hari) setiap hari Kamis Wage, selametan, gombakan (mencukur rambut gembel), rejeban yang biasanya diisi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dan lainnya.
Selain itu juga ada perayaan budaya setiap tahunnya yang dikenal dengan nama Sungkem Telompak.

Ritual  sungkem telompak 
‌Telompak merupakan tempat sakral yang disucikan oleh warga Dusun Gejayan dan Dusun Keditan. Biasanya Sungkem Telompak dilaksanakan pada tanggal 5 setelah lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Menurut sesepuh dusun bahwa Telompak adalah  tempat sumber  mata air yang digunakan untuk melakukan semedi dan ada cikal bakal yang berada di tempat tersebut yang dikenal dengan mbah Singo Barong
‌Menurut cerita yang ada dari masyarakat dulu dusun keditan mengalami paceklik yang membuat masyarakat tidak bisa menanami lahan pertanian sayurannya, kesulitan air karena kemarau berkepanjangan.
‌Warga percaya bahwa aliran air dari sumber Tlompak itu telah menjadi berkah dari Tuhan bagi kehidupan pertanian setempat

TRADISI NYADRAN DI LERENG MERBABU

Makam cikal Bakal Ky Onggo joyo dan Ny joyo puso Kamis 25 April 2019 kurang lebih pukul 07.00 wib,warga Gejayan Banyusidi Pakis Magelan...